*TSd0TUWlBUC0Gpz9GSO9GpMlBA==*

Hama Utama Tanaman Cabai, (Thrips)

Thysanoptera Foto: Wikimedia commons 

Tanikita.com - Artikel ini merupakan kumpulan seri pembahasan mengenai hama utama tanaman cabai. Artikel akan dibagi menjadi beberapa part untuk membahas setiap hama. Artikel akan membahas secara praktis jenis hama, daur hidup, gejala serangan dan pengendalian.

Thrips atau trips merupakan jenis serangga kecil yang termasuk dalam ordo Thysanoptera. Serangga ini memiliki ukuran panjang sekitar 1 hingga 2 milimeter. Nama "trips" yang kita kenal saat ini berasal dari kata Yunani "thrips", yang berarti "kutu kecil".

Trips dapat menjadi hama penting pada berbagai tanaman budidaya.  Menyebabkan kerusakan dengan menghisap cairan tanaman, menghasilkan luka-luka kecil pada jaringan tanaman, dan menyebarkan virus atau patogen lainnya. Trips juga dapat menyebabkan kerusakan pada buah-buahan dan bunga dengan meninggalkan bercak-bercak perak atau hitam pada permukaannya.

Thysanoptera Foto: Wikimedia commons 

Klasifikasi

Trips merupan Ordo Thysanoptera memiliki 6000 spesies yang terdiri atas dua Subordo yaitu Subordo Tubulifera dan Subordo Terebrantia, dengan sembilan famili. Phlaeothripidae termasuk satu-satunya famili di subordo Tubulifera. Delapan famili lainnya termasuk kedalam subordo Terebrantia (Mound and Morris, 2007). Menurut Boror, et al. (1989), perbedaan subordo Tubulifera dan terebrantia terletak pada bagian ujung abdomennya. Ujung abdomen pada subordo Tubulifera berbentuk seperti tabung sedangkan ujung abdomen subordo Terebrantia membulat atau meruncing.

  1. Subordo Tubulifera. Subordo Tubulifera hanya memiliki 1 famili yaitu Phlaeothripidae dengan 3500 spesies (Morse and Mark, 2006). Trips subordo Tubulifera memiliki abdomen yang berbentuk seperti tabung pada segmen ke-10. Trips betina meletakkan telurnya di permukaan tumbuhan, setelah itu trips melewati siklus 2 larva dan 3 pupa (primipupa, prepupa, dan pupa) sebelum mencapai kematangan. Tahap larva ditemukan pada inang sedangkan tahap pupa berada di tanah pada larva instar 2 sampai menjadi dewasa (Stannard, 1968).  Famili Phlaeothripidae merupakan famili dengan jumlah spesies terbayank pada ordo Thysanoptera. Famili Phlaeothripidae mempunyai ukuran tubuh lebih besar dibandingkan famili trips yang lainnya.                                                Famili ini kebanyakan berwarna coklat tua atau hitam. Ruas abdomen terakhir berbentuk tabung. Ovipositor betina tenggelam. Sayap berukuran kecil dan halus, sebagian tidak memiliki sayap. Antena mempunyai 4 sampai 8 segmen. Famili Phlaeothripidae umumnya pemakan spora, bersifat pemangsa, dan beberapa pemakan tumbuhan (Boror, et al., 1989).
  2. Subordo Terebrantia.    Subordo Terebrantia mempunyai 8 famili yaitu famili Thripidae (1970 spesies), famili Aeolothripidae (190 spesies), famili Heterothripidae (70 spesies), famili Melanthripidae (65 spesies), famili Merothripidae (15 spesies), famili Stenurothripidae (6 spesies), famili Fauriellidae (5 spesies), dan famili Uzelothripidae (1 spesies). Trips subordo Terebrabtia memiliki abdomen di segmen ke-10 berbentuk seperti kerucut dan ovipositornya seperti gergaji. Trips betina meletakkan telurnya didalam jaringan tumbuhan, kemudian melewati 2 tahap larva dan 2 tahap pupa (prepupa dan pupa) sebelum mencapai kematangan (Stannard, 1968).

Morfologi Trips

Trips memiliki morfologi yang khas dan membedakannya dari serangga lain. Berikut adalah beberapa ciri morfologi umum dari trips:

1. Ukuran: Trips memiliki ukuran yang relatif kecil, umumnya sekitar 1-2 milimeter panjangnya. Namun, ukurannya dapat bervariasi tergantung pada spesiesnya.

2. Bentuk tubuh: Tubuh trips biasanya ramping dan memanjang. Mereka memiliki tiga segmen tubuh utama, yaitu kepala, thorax, dan abdomen.

3. Sayap: Trips umumnya memiliki sayap dengan tekstur transparan atau berwarna gelap. Beberapa spesies trips memiliki sayap yang sangat panjang, melebihi panjang tubuhnya. Sayap ini terlipat di atas tubuh saat sedang istirahat.

4. Antena: Trips memiliki sepasang antena yang berada di bagian depan kepala. Antena mereka memiliki struktur yang berkelok-kelok dan terdiri dari beberapa segmen. Antena ini berfungsi sebagai organ penciuman dan membantu dalam pengecap dan pengenalan bau.

5. Kaki: Trips memiliki enam kaki yang terpasang di thorax mereka. Kaki-kaki tersebut biasanya ramping dan dilengkapi dengan cakar untuk membantu mereka bergerak di atas permukaan tanaman.

6. Warna: Warna trips bervariasi tergantung pada spesiesnya. Beberapa spesies memiliki warna tubuh yang cenderung gelap, seperti hitam atau cokelat. Ada juga spesies yang memiliki warna tubuh yang lebih terang, seperti putih atau kekuningan.

7. Alat pengisap: Trips memiliki alat pengisap yang kompleks yang terletak di bagian mulut mereka. Alat pengisap ini terdiri dari probosis yang panjang dan tipis, yang digunakan untuk menghisap cairan tumbuhan dari jaringan tanaman inang.

Morfologi trips dapat bervariasi antara spesies yang berbeda, dan beberapa ciri morfologi mungkin lebih menonjol pada spesies tertentu. Pemahaman tentang morfologi trips penting dalam mengidentifikasi spesies yang ada dan untuk mengenali karakteristik penting dalam pengendalian hama.

Penyakit yang ditimbulkan

Trips, sebagai serangga yang menyebabkan kerusakan pada tanaman, dapat menjadi vektor penyakit. Mereka dapat membawa patogen atau virus dari tanaman yang terinfeksi ke tanaman yang sehat saat mereka menghisap cairan tumbuhan. Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan oleh trips termasuk:

1. Penyakit Kuning Kecil: Trips dapat menyebabkan penyakit kuning kecil pada tanaman, terutama pada tanaman sayuran seperti tomat, mentimun, dan kacang polong. Penyakit ini ditandai dengan munculnya bercak-bercak kekuningan pada daun dan pertumbuhan yang terhambat.

2. Penyakit Bercak Perunggu: Trips dapat menyebabkan penyakit bercak perunggu pada tanaman kentang. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna perunggu pada daun, yang kemudian dapat berubah menjadi nekrosis (kematian jaringan).

3. Penyakit Bercak Abu-abu atau Bercak Bening: Trips juga dapat menyebabkan penyakit bercak abu-abu pada tanaman bawang, daun bawang, dan sejenisnya. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna abu-abu atau bening pada daun, yang kemudian dapat berkembang menjadi nekrosis.

4. Penyakit Mosaic: Trips dapat menyebabkan penyakit mosaic pada tanaman, termasuk cabai, mentimun, dan tomat. Penyakit ini ditandai dengan munculnya pola-pola berwarna kuning, hijau, atau putih pada daun tanaman, yang memberikan penampilan seperti jaring-jaring.

Dari berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh trips, penyakit kuning atau penyakit mosaic atau keriting Kuning yang paling terkenal dan sangat familiar oleh petani di Indonesia. 

Penting untuk mengetahui jenis serangan trips untuk menerapkan langkah-langkah pengendalian yang tepat untuk mengurangi populasi trips dan mengendalikan penyebaran virus yang disebabkannya. 

Menurut Sartiami (2008), serangga hama Ordo Thysanoptera juga berperan sebagai vektor virus tanaman atau sebagai predator. Pada tanaman pangan dan hortikultura beberapa virus yang ditularkan oleh serangga hama ini diantaranya TSWV (Tomatto spotted wilt virus), LSWF (Lettuce spotted wilt virus), PYSV (Peneaple yellow spotted virus), Tip chlorosis, Kromneck diseases, dan TMV (Pobacco mosaic virus). Hal tersebut dapat menurunkan hasil panen. Trips yang berperan menjadi predator dapat mengendalikan populasi hama. Trips predator memangsa larva trips hama dan kutu hama yang berukuran lebih kecil.

Asal Mula Trips

Trips memiliki distribusi yang luas di seluruh dunia, sehingga sulit untuk mengidentifikasi asal usul pasti mereka. Namun, diperkirakan bahwa trips telah ada dalam ekosistem alami selama jutaan tahun. Mereka ditemukan di berbagai habitat, termasuk di daerah tropis, subtropis, dan temperat.

Beberapa spesies trips diyakini berasal dari daerah tropis, di mana kondisi hangat dan lembab memberikan lingkungan yang ideal bagi perkembangan dan reproduksi mereka. Namun, dengan adanya perdagangan internasional, trips telah menyebar ke berbagai belahan dunia dan berhasil menetap di berbagai ekosistem.

Beberapa spesies trips, seperti trips bunga Barat (Frankliniella occidentalis), diketahui sebagai spesies invasif yang telah menyebar ke berbagai wilayah di dunia. Spesies ini pertama kali terdeteksi di Amerika Utara, tetapi sekarang telah menyebar luas ke seluruh dunia dan menjadi hama yang signifikan pada berbagai tanaman budidaya.

Meskipun asal usul trips tidak dapat ditentukan dengan pasti, penyebaran mereka yang luas dan kemampuan mereka untuk menyerang berbagai tanaman membuat mereka menjadi perhatian penting dalam pertanian dan kehutanan. Upaya pengendalian dan pemantauan terus dilakukan untuk mengurangi dampak trips terhadap tanaman dan ekosistem.

Siklus hidup Trips 

Siklus hidup trips melibatkan beberapa tahap perkembangan, mulai dari telur hingga dewasa. Secara umum, daur hidup trips dapat dibagi menjadi empat tahap utama: telur, larva, pupa, dan imago (dewasa). Siklus hidup trips diselesaikan selama 2-3 minggu. Namun, penting untuk dicatat bahwa ada variasi dalam daur hidup trips tergantung pada spesiesnya. Berikut adalah gambaran umum dari tahapan-tahapan dalam daur hidup trips:

1. Telur: Siklus hidup trips dimulai dengan penempelan telur pada tumbuhan inang. Betina trips umumnya meletakkan telur-telur ini di dalam jaringan tanaman, seperti pada bagian bawah daun dan bunga. Telur memiliki ukuran sangat kecil dan biasanya sulit untuk dilihat tanpa bantuan peralatan mikroskopis. Jumlah telur yang dihasilkan 30-60 telur tergantung pada nutrisi, suhu, dan kelembaban (Ananthakrishnan 1993).

2. Larva: Setelah telur menetas, trips berada dalam bentuk larva atau nimfa. Larva trips sangat kecil dan seringkali transparan atau berwarna putih. Mereka aktif mencari makan dan menghisap cairan tumbuhan dari daun, bunga, atau bagian lain tanaman inang. Selama tahap ini, trips dapat berkembang melalui beberapa instar, di mana mereka melalui perubahan struktural dan pertumbuhan sebelum mencapai tahap berikutnya.

3. Pupa: Setelah melalui beberapa instar larva, trips akan memasuki tahap pupa. Pada tahap ini, trips tidak aktif dan cenderung bersembunyi di dalam jaringan tanaman atau di tempat perlindungan lainnya. Mereka mengalami transformasi dan perubahan struktural untuk mempersiapkan diri menjadi dewasa.

4. Imago (dewasa): Setelah periode pupa, trips berkembang menjadi imago atau dewasa. Pada tahap ini, trips memiliki sayap dan dapat terbang untuk mencari makanan dan pasangan. Dewasa trips umumnya lebih aktif dan dapat melakukan reproduksi. Siklus hidup trips berlanjut dengan perkawinan dan betina trips bertelur, memulai kembali tahap telur dalam daur hidup.

Daur hidup trips umumnya relatif singkat, berkisar antara beberapa minggu hingga beberapa bulan tergantung pada suhu dan kondisi lingkungan. Periode perkembangan trips juga dapat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber makanan.

Kerugian yang ditimbulkan

Trips dapat menyebabkan kerugian yang signifikan pada tanaman, terutama ketika populasi trips tinggi. Berikut adalah beberapa kerugian yang ditimbulkan oleh trips pada tanaman:

1. Kerusakan Fisik: Trips menghisap cairan tumbuhan menggunakan alat pengisap yang tajam. Mereka meninggalkan bekas pengerjaan yang disebut silvering pada daun dan bagian tanaman lainnya. Silvering mengurangi fungsi daun dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

2. Penurunan Kualitas Buah dan Bunga: Trips dapat menyebabkan kerusakan pada buah dan bunga, seperti membuat bercak-bercak atau deformasi pada buah. Ini dapat mengurangi nilai jual dan kualitas pasar tanaman budidaya.

3. Penyebaran Penyakit: Trips dapat berperan sebagai vektor penyakit, menginfeksi tanaman dengan virus atau patogen lainnya. Mereka membawa patogen dari tanaman yang terinfeksi ke tanaman sehat saat mereka berpindah dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Hal ini dapat menyebabkan penyebaran penyakit yang merusak tanaman.

4. Gangguan pada Pertumbuhan dan Produksi: Serangan trips yang parah dapat menghambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi hasil produksi. Mereka dapat menyebabkan klorosis, nekrosis, dan pembusukan pada daun, bunga, atau buah. Tanaman yang terinfeksi trips juga mungkin mengalami penurunan produksi biji atau buah yang sehat.

5. Dampak Ekonomi: Serangan trips dapat memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi petani dan produsen tanaman. Kerugian produksi, penurunan kualitas produk, dan biaya pengendalian trips dapat menyebabkan penurunan pendapatan bagi para pelaku industri pertanian.

Pengendalian trips melibatkan langkah-langkah seperti penggunaan insektisida yang tepat, penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap trips, pemantauan keberadaan trips, dan menjaga kebersihan kebun. Tindakan pencegahan dan pengendalian yang tepat dapat membantu mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh trips pada tanaman.

Tanaman yang diserang

Trips dapat menyerang berbagai jenis tanaman, baik tanaman pertanian, hortikultura, maupun tanaman hias. Beberapa tanaman yang sering kali menjadi inang bagi trips dan dapat diserang oleh mereka meliputi:

1. Sayuran: Trips sering menyerang berbagai jenis sayuran, termasuk cabai, mentimun, kentang, tomat, terong, bawang, wortel, kacang polong, dan bayam.

2. Buah-buahan: Beberapa tanaman buah yang dapat diserang oleh trips meliputi stroberi, anggur, jeruk, apel, pir, persik, dan mangga.

3. Tanaman hias: Trips juga dapat menjadi hama pada berbagai tanaman hias, seperti mawar, krisan, anggrek, begonia, ivy, dan pohon Natal.

4. Tanaman pangan: Trips dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman pangan seperti padi, jagung, gandum, kacang-kacangan, dan kedelai.

5. Tanaman rempah dan herbal: Trips dapat menyerang tanaman rempah seperti daun ketumbar, daun mint, dan daun kemangi. Mereka juga dapat merusak tanaman herbal seperti lavender, rosemary, dan thyme.

Penting untuk dicatat bahwa jenis tanaman yang diserang oleh trips dapat bervariasi tergantung pada spesies trips yang ada di suatu wilayah dan preferensi makanannya. Trips sering kali lebih suka tanaman dengan daun yang halus dan berbulu, serta tanaman yang tumbuh dengan subur dalam kondisi hangat dan lembab. Pengamatan teratur, pemantauan keberadaan trips, dan tindakan pengendalian yang sesuai dapat membantu melindungi tanaman dari serangan dan kerusakan yang disebabkan oleh trips.

Pengendalian

Pengendalian trips dapat melibatkan pendekatan terpadu yang mengombinasikan beberapa strategi. Berikut adalah beberapa metode pengendalian yang umum digunakan untuk mengurangi populasi trips dan kerusakan yang disebabkannya:

1. Penggunaan insektisida: Insektisida adalah salah satu metode pengendalian trips yang umum digunakan. Pemilihan dan penggunaan insektisida yang tepat harus mempertimbangkan jenis trips yang menjadi masalah, tingkat serangan, serta keamanan bagi manusia, hewan, dan lingkungan. 

Terdapat beberapa jenis insektisida yang umum digunakan dalam pengendalian serangga, termasuk trips. Berikut adalah beberapa jenis insektisida yang sering digunakan:

  • Pyrethroids: Pyrethroids adalah kelompok insektisida yang efektif dalam mengendalikan trips. Mereka berasal dari ekstrak tanaman Chrysanthemum dan memiliki toksisitas rendah terhadap mamalia. Pyrethroids bekerja dengan mengganggu sistem saraf serangga, menyebabkan paralisis dan kematian. Contoh pyrethroids yang umum digunakan adalah permethrin, cypermethrin, dan deltamethrin.
  • Organophosphate: Insektisida organophosphate adalah senyawa yang bekerja dengan menghambat enzim kolinesterase dalam sistem saraf serangga. Ini menyebabkan gangguan pada fungsi saraf mereka dan akhirnya menyebabkan kematian. Beberapa contoh insektisida organophosphate yang digunakan untuk mengendalikan trips adalah malathion, diazinon, dan chlorpyrifos.
  • Carbamate: Carbamate adalah jenis insektisida yang memiliki mode aksi yang mirip dengan organophosphate, yaitu menghambat enzim kolinesterase. Namun, carbamate memiliki kerja yang lebih cepat dan waktu paruh yang lebih singkat. Contoh insektisida carbamate yang sering digunakan adalah carbaryl dan propoxur.
  • Neonicotinoids: Neonicotinoids adalah kelompok insektisida yang efektif dalam mengendalikan trips dan banyak serangga lainnya. Mereka bekerja dengan mempengaruhi sistem saraf serangga dan menyebabkan kelumpuhan dan kematian. Namun, neonicotinoids juga menjadi kontroversial karena potensinya dalam mempengaruhi lebah dan serangga penyerbuk lainnya. Contoh neonicotinoids yang umum digunakan adalah imidacloprid, thiamethoxam, dan clothianidin.
  • Botanicals: Insektisida botanicals berasal dari bahan alami, seperti ekstrak tanaman atau minyak esensial. Beberapa contoh insektisida botanicals yang digunakan untuk mengendalikan trips adalah neem oil (minyak neem), pyrethrin (ekstrak bunga pyrethrum), dan rotenone (ekstrak akar tumbuhan).

2. Penggunaan perangkap serangga: Perangkap serangga yang dirancang khusus dapat digunakan untuk memantau dan mengurangi populasi trips. Perangkap dapat menarik trips dewasa dan membantu mengendalikan populasi mereka. Penggunaan perangkap kuning atau perangkap lem yang dilapisi bahan perekat dapat efektif dalam menangkap trips. Nama produk yang dapat dibeli di pasaran seperti Leila, Glumon.

3. Penggunaan tanaman pengganggu trips: Beberapa tanaman pengganggu trips, seperti tanaman bunga matahari dan tanaman umbi seperti bawang putih atau bawang merah, dapat ditanam di sekitar tanaman yang rentan terhadap serangan trips. Tanaman pengganggu ini dapat menarik perhatian trips dan membantu mengurangi populasi mereka pada tanaman utama.

4. Praktik sanitasi: Menjaga kebersihan di area pertanian atau kebun sangat penting untuk mengendalikan trips. Trips sering berkumpul di gulma atau sisa tanaman yang terinfeksi virus. Membersihkan gulma, menghilangkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi, dan membuangnya dengan benar dapat mengurangi sumber makanan dan tempat persembunyian bagi trips.

5. Penggunaan metode fisik: Beberapa metode fisik dapat membantu mengendalikan trips. Misalnya, menggunakan aliran air bertekanan rendah atau semprotan air untuk menyiram dan membersihkan daun dapat menghilangkan trips yang berada pada tanaman. Juga, penggunaan jaring perisai atau kain penutup pada tanaman dapat membantu mencegah trips masuk ke tanaman.

6. Penggunaan predator dan parasitoid trips: Pengendalian predator atau parasitoid trips yang alami dapat menjadi metode pengendalian biologis yang efektif. Contohnya, beberapa spesies laba-laba, kumbang, dan serangga parasitoid dapat memangsa trips dan membantu mengurangi populasi mereka.

Penting untuk mengamati dan memantau populasi trips secara teratur untuk menentukan tingkat serangan dan memilih metode pengendalian yang paling sesuai. Pendekatan terpadu yang menggabungkan beberapa metode dapat memberikan hasil yang lebih efektif dalam mengendalikan trips dan melindungi tanaman.

***

Comments0

Komentar dengan link tidak diperkenankan.